Username:  
 
Password:  
    
Lupa Password? Username?   |   Register
register
banner-infaq-panjang1

Banner GrosirBajuIndonesia.com

Banner-BusanaMuslimIndonesia.com

Siapa Online ?

Kami memiliki 10 Tamu online

Statistik Portal

Anggota : 1430
Konten : 250
Web Link : 12
Jumlah Kunjungan Konten : 4151559

Site Translation

Meyakinkan Khasiat Obat Tradisional Lewat Uji Klinik PDF Cetak E-mail
Section Press Release - Liputan Berita dan Advertorial

Meyakinkan Khasiat Obat Tradisional Lewat Uji Klinik

argaiv1001

 

Untuk menuju pengobatan alternatif dalam pengobatan modern, pemakaian obat tradisional jenis herbal (dari tumbuhan) tidak cukup hanya melalui uji empiris maupun pra klinik. Untuk meyakinkan khasiatnya dan bisa dikembangkan pihak industri dalam skala yang lebih besar, obat herbal harus diuji secara klinik.

Menteri Kesehatan Achmad Sujudi menyampaikan hal itu hari Selasa (27/4) saat membuka seminar nasional ke-25 Tumbuhan Obat Indonesia yang diadakan Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia (Pokjanas TOI), Badan Penelitian Tanaman obat (BPTO), Puslitbang Farmasi danObat Tradisional Balitbangkes Depkes, dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar di Tawangmangu, Jawa Tengah.

 

Seminar dua hari itu khusus menggali dan menyebarkan informasi penelitian mengenai buah mengkudu (Morinda citrifolia L) dan daun jinten (Coleus amboinicus Lour).

Dorongan untuk menguji klinik suatu jenis Tanaman obat mutlak dilakukan untuk menghadapi makin banyaknya obat herbal dari luar yang masuk ke Indonesia. "Kenyataan itu di satu sisi ancaman, tapi disisi lain jadi tantangan," katanya.

 

Pemakaian tumbuhan sebagai obat sudah lama digunakan masyarakat di Indonesia. Akan tetapi, menurut Menkes, pemakaiannya sebagian besar baru didasarkan pada pengalaman. Uji pre-klinik pada hewan percobaan atau uji klinik pada manusia masih terbatas. "Untuk meyakinkan khasiat Tanaman obat, dibutuhkan uji klinik. Itu perlu sekali walau mahal biayanya," katanya.

Pengembangan Tanaman obat bisa dilakukan lewat penelitian yang hasilnya bisa ’dijual’ kepada industri. Akan tetapi, nyatanya industri belum begitu tertarik. "Mungkin cara menjualnya yang kurang bagus sehingga industri belum tertarik," tambah Sujudi.

 

Kondisi itu jauh berbeda dengan China yang sudah melakukan uji klinik terhadap Tanaman obat. "Saya pernah ke sana, laboratoriumnya sederhana, tetapi industri obat herbalnya maju sekali," urainya.

Diakui, dana untuk penelitian tanaman obatdi Litbangkes Depkes belum memadai untuk lebih menggairahkan pemakaian tanaman sebagai obat. Alternatifnya, pihak industri bisa berinvestasi dalam bentuk penelitian Tanaman obat.

 

Tanpa bahan kimia

 

Menurut Sujudi, baru-baru ini Menteri Kesehatan se-Asean ditambah Jepang dan China telah menyepakati penggunaan obat tradisional secara terintegrasi dalam pelayanan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mendorong ke arah sama. Meski demikian, masih ada yang harusdikerjakan karena forum menteri di atas masih mempertanyakan seberapa jauh peran Tanaman obat itu dan persyaratannya.

 

Depkes RI beberapa waktu lalu juga sudah memasukkan kesepakatan itu dalam program dan saat ini sudah ada rumah sakit yang juga melayani pemberian obat dalam bentuk Tanaman obat atau jamu.

Untuk lebih mengembangkan Tanaman obat Indonesia, Sujudi berencana merefungsi Balitbangkes. Kabalitbangkes Depkes DrDini Latief saat ini sedang membuat masterplan visi, fungsi badan penelitian dan pengembangan kesehatan itu.

 

Sekjen Pokjanas TOI Nani Sukasediati MS Apt secara terpisah menyampaikan, pihaknya telah melakukan uji pre-klinik atas 47 Tanaman obat dan ada penelitian lanjutan untuk mengkaji relasinya dengan riset unggulan kemitraan.

 

Sumber: Kompas 29 April 2004

 
Konten Berhubungan
Copyright © 2013 Pusat Tanaman Obat dan Obat Tradisional - managed by Active Media Online Campaign Management